Kamis, 12 Maret 2015

Under The Same Sky

“Aku tidak mempunyai masalah dengan jarak. Semuanya terasa dekat, karena kita berada di bawah langit yang sama.” 


Bagian I



Thank you,” aku menghela napas lega ketika cahaya mesin kecil di depanku berwarna hijau. Kelas bercat putih gading ini nampak damai seperti biasanya. Semua orang sibuk dengan rutinitas kami dipagi hari, ya, mengerjakan pekerjaan rumah. “Ah, masih ada 25 menit lagi,” aku bersyukur dalam hati. Segera aku letakkan tas berwarna pink fanta di atas meja, kemudian aku keluarkan tempat makan berwarna hijau muda. “Luar biasa! Sayur sop telur puyuh memang makanan paling enak se dunia!”

“Wanita tidak meneriaki makanannya,” aku benar-benar hapal dengan suara ini. “Kemudian, tidak mondar-mandir kesana-kemari meminta jatah lebih.” sambungnya sambil menekan kata jatah lebih. Benar-benar cari ribut. “Sebenarnya siapa yang bertingkah seperti wanita disini, eh?” jawabku sambil meninggikan kata wanita. Mizuki menurunkan komik yang sedang dibacanya, kemudian menatapku sinis, “Setidaknya aku bertingkah seperti kebanyakan laki-laki,” benar-benar membuat tekanan darahku melebihi 120/80 sistol!


Brak



“Wanita tidak menggebrak meja, seper…”
“Setidaknya aku melakukan apa yang ingin aku lakukan, tidak seperti dirimu yang berlagak seperti pemeran utama di komik ber-genre romance,” jawabku telak. Mata coklat kehitamannya membesar, kaget mungkin? Entah, aku tidak peduli. Harakuma Mizuki, murid tahun terakhir di sekolah menengah atas namun masih berumur lima belas tahun, count it. Laki-laki keturunan jepang ini selalu berlagak seperti tokoh utama dikomik ber-genre romance, kau tahu? Seperti tebar pesona saat pelajaran olahraga, terutama sepak bola. Selalu unggul dalam pelajaran MIPA dan bahasa Jepang. Cukup. Lama-lama aku terdengar seperti memujinya.

“Terserah, aku tidak membutuhkan opinimu,”








“Ninda, ini hari terakhir kita sekolah, kan?!” spontan aku berteriak ketika melihat tanggalan di kalender. Akhirnya liburan tiba juga! Aku tidak perlu buang-buang uang hanya untuk memindahkan pantat dari rumah ke sekolah. Sebenarnya dihari-hari terakhir semester lebih baik bolos, tidur larut malam, kemudian membaca komik atau novel, dan jangan lupa menonton anime yang sudah aku siapkan jauh-jauh hari. “Umm, tapi jangan lupa dengan cicilan kerja kelompok untuk ujian praktik ya,” celaka! Aku lupa dengan kerja kelompok bullshit.

Mizuki masuk sambil membawa lembar jawaban ujian. Wajahnya nampak berseri-seri, merah muda mulai muncul di kedua pipi putihnya. “Ini lembar jawaban ujian bahasa Jepang,” nah, as I thought. “Wah, Mizuki dapat nilai sempurna lagi, ya?” benar-benar malas mendengarnya. “Lho, Dira tidak mengambil hasil ujian?” Ninda kembali sambil membawa kertas jawabannya. “Tidak, malas. Ninda dapat berapa? Banyak yang remed?”

“Sembilan puluh! Arigatou ne, Dira. Mmm hampir semua perempuan remedial. Untungnya laki-laki tidak ada yang remedial, hehe,” Senyumku mengembang ketika Ninda mengatakan laki-laki tidak ada yang remed. Luar biasa, Tuhan memang menyayangiku. Sebentar, hampir perempuan remedial semua?! Dafuq!

Sebenarnya perempuan dikelas ini luar biasa. Mereka lebih memilih remedial ketimbang menikmati waktu luang mereka. Semenjak Sensei membuat kebijakan, “Perempuan bisa tanya Mizuki kalau merasa kesusahan, laki-laki bisa tanya Dira kalau kesusahan,” hampir semua perempuan di kelas ini remedial, ckck, benar-benar pintar. Sementara, laki-laki di kelas ini lebih memilih nilai berapa-saja-asal-tidak-remedial karena belajar denganku akan terasa memusingkan. Bagaimana tidak? Mereka akan aku marahi abis-abisan sampai bisa.

“Hasil ujianmu,” tiba-tiba Mizuki menghampiri mejaku sambil menaruh selembar kertas. “Sepertinya kau menang banyak lagi ya, eh?” sindirku halus. Kemudian Ia tertawa, sambil berjalan pergi. Langkahnya tiba-tiba terhenti, kemudian Ia menoleh sambil berkata, “Mau membantuku, Dira Senpai?” Sial! Aku benci saat dia memanggilku seperti itu, terkesan seperti, “kau lebih tua dariku tapi kita berada dalam tingkatan yang sama.”


“Berisik. Pergi sana!” Mizuki malah berbalik badan dan berjalan ke arahku, “Sabtu ini kita latihan untuk ujian praktik bahasa Jepang. Di rumahku saja, ya? Jangan lambat kalau waktu liburamu tidak mau terpotong,” jelasnya kemudian pergi. Argh benar-benar bikin pusing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar