“Aku tidak mempunyai masalah dengan jarak. Semuanya terasa
dekat, karena kita berada di bawah langit yang sama.”
Bagian I
“Thank you,”
aku menghela napas lega ketika cahaya mesin kecil di depanku berwarna hijau. Kelas
bercat putih gading ini nampak damai seperti biasanya. Semua orang sibuk dengan
rutinitas kami dipagi hari, ya, mengerjakan pekerjaan rumah. “Ah, masih ada 25
menit lagi,” aku bersyukur dalam hati. Segera aku letakkan tas berwarna pink fanta di atas meja, kemudian aku
keluarkan tempat makan berwarna hijau muda. “Luar biasa! Sayur sop telur puyuh
memang makanan paling enak se dunia!”
“Wanita tidak meneriaki makanannya,” aku benar-benar
hapal dengan suara ini. “Kemudian, tidak mondar-mandir kesana-kemari meminta
jatah lebih.” sambungnya sambil menekan kata jatah lebih. Benar-benar cari ribut.
“Sebenarnya siapa yang bertingkah seperti wanita disini, eh?” jawabku sambil meninggikan kata wanita. Mizuki menurunkan
komik yang sedang dibacanya, kemudian menatapku sinis, “Setidaknya aku
bertingkah seperti kebanyakan laki-laki,” benar-benar membuat tekanan darahku
melebihi 120/80 sistol!
Brak
“Wanita tidak menggebrak meja, seper…”
“Setidaknya aku melakukan apa yang ingin aku
lakukan, tidak seperti dirimu yang berlagak seperti pemeran utama di komik ber-genre romance,” jawabku telak. Mata coklat
kehitamannya membesar, kaget mungkin? Entah, aku tidak peduli. Harakuma Mizuki,
murid tahun terakhir di sekolah menengah atas namun masih berumur lima belas
tahun, count it. Laki-laki keturunan jepang ini selalu berlagak seperti tokoh
utama dikomik ber-genre romance, kau
tahu? Seperti tebar pesona saat pelajaran olahraga, terutama sepak bola. Selalu
unggul dalam pelajaran MIPA dan bahasa Jepang. Cukup. Lama-lama aku terdengar
seperti memujinya.
“Terserah, aku tidak membutuhkan opinimu,”
“Ninda, ini hari terakhir kita sekolah, kan?!”
spontan aku berteriak ketika melihat tanggalan di kalender. Akhirnya liburan
tiba juga! Aku tidak perlu buang-buang uang hanya untuk memindahkan pantat dari
rumah ke sekolah. Sebenarnya dihari-hari terakhir semester lebih baik bolos,
tidur larut malam, kemudian membaca komik atau novel, dan jangan lupa menonton
anime yang sudah aku siapkan jauh-jauh hari. “Umm, tapi jangan lupa dengan
cicilan kerja kelompok untuk ujian praktik ya,” celaka! Aku lupa dengan kerja
kelompok bullshit.
Mizuki masuk sambil membawa lembar jawaban ujian. Wajahnya
nampak berseri-seri, merah muda mulai muncul di kedua pipi putihnya. “Ini
lembar jawaban ujian bahasa Jepang,” nah, as I thought. “Wah, Mizuki dapat nilai sempurna lagi, ya?” benar-benar
malas mendengarnya. “Lho, Dira tidak
mengambil hasil ujian?” Ninda kembali sambil membawa kertas jawabannya. “Tidak,
malas. Ninda dapat berapa? Banyak yang remed?”
“Sembilan puluh! Arigatou
ne, Dira. Mmm hampir semua perempuan remedial. Untungnya laki-laki tidak
ada yang remedial, hehe,” Senyumku mengembang ketika Ninda mengatakan laki-laki
tidak ada yang remed. Luar biasa, Tuhan memang menyayangiku. Sebentar, hampir
perempuan remedial semua?! Dafuq!
Sebenarnya perempuan dikelas ini luar biasa. Mereka lebih
memilih remedial ketimbang menikmati waktu luang mereka. Semenjak Sensei membuat kebijakan, “Perempuan
bisa tanya Mizuki kalau merasa kesusahan, laki-laki bisa tanya Dira kalau
kesusahan,” hampir semua perempuan di kelas ini remedial, ckck, benar-benar pintar. Sementara, laki-laki di kelas
ini lebih memilih nilai berapa-saja-asal-tidak-remedial karena belajar denganku
akan terasa memusingkan. Bagaimana tidak? Mereka akan aku marahi abis-abisan
sampai bisa.
“Hasil ujianmu,” tiba-tiba Mizuki menghampiri mejaku
sambil menaruh selembar kertas. “Sepertinya kau menang banyak lagi ya, eh?” sindirku halus. Kemudian Ia
tertawa, sambil berjalan pergi. Langkahnya tiba-tiba terhenti, kemudian Ia
menoleh sambil berkata, “Mau membantuku, Dira Senpai?” Sial! Aku benci saat dia memanggilku seperti itu, terkesan
seperti, “kau lebih tua dariku tapi kita berada dalam tingkatan yang sama.”
“Berisik. Pergi sana!” Mizuki malah berbalik badan
dan berjalan ke arahku, “Sabtu ini kita latihan untuk ujian praktik bahasa
Jepang. Di rumahku saja, ya? Jangan lambat kalau waktu liburamu tidak mau
terpotong,” jelasnya kemudian pergi. Argh
benar-benar bikin pusing.